Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, engkau akan mengirimkan aku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”
Tuhanpun menjawab, “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seseorang yang khusus untukmu, dia akan merawat dan mengasihimu.” Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini disurga ini aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.” Tuhanpun menjawab, “Taka apa, Malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.” Namun Si kecil bertanya lagi, “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?
Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang indah, dia akan selalu sabar berada disampingmu. Dan dengan kasihnya dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia. Si kecil bertanya lagi, “Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara padamu Ya Tuhan?”
Tuhanpun kembali menjawab, “Malaikatmu itu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu dan mengajarkanmu untuk berdo’a.” Lagi-lagi Si kecil menyelidik, “Namun aku mendengar disana banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”
Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.” Namun Sikecil kini malah menjadi sedih, “Tuhan tentu aku akan menjadi sedih jika tak melihat-Mu lagi.”
Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan selalu mengajarkan keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu aku akan selalu ada disisimu.”
Hening. Kedamaianpun kembali menerpa surga. Suara-suara panggilan dari bumi mulai sayup-sayup terdengar. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama dari malaikat pelingdungku itu…”
Tuhan kembali menjawab, “Nama malaikatmu itu tak begitu penting… Hanya saja kamu akan sering menyebutnya dengan panggilan: Ibu…”
Sumber: http://www.temanbaru.com/?p=940
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts
Saturday, February 26, 2011
Thursday, February 24, 2011
Ketika Aku Sudah Tua ( Pesan Orang Tua Kita )
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku……
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah
bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah
beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku……
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah
bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah
beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu
mandi?
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu
mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru,
jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa”
darimu.
jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa”
darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
di samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
di samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu
mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu
mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh
rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga
untukmu.
rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga
untukmu.
Pesan:
Hormati Ayah dan Ibumu sebelum mereka meninggalkan anda dengan kedukaan yang mendalam.
Hormati Ayah dan Ibumu sebelum mereka meninggalkan anda dengan kedukaan yang mendalam.
Kisah 1000 Kelereng
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.
“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.
“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.
“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.
“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups
Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?
Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?
ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?
Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.
sumber: http://kumpulanceritamotivasi.blogspot.com/2009/08/kisah-1001-kelereng.html
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.
“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.
“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.
“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.
“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups
Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?
Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?
ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?
Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.
sumber: http://kumpulanceritamotivasi.blogspot.com/2009/08/kisah-1001-kelereng.html
Saturday, February 12, 2011
Siapakah Dia???
Ini Merupakan Cerpen pertamaku, yang aku buat karena ada tugas dari guru Bahasa Indonesia..
SIAPAKAH DIA ???
Oleh : Eki Adetya Nugraha
Rico masih menangis di pemakaman adiknya dibawah sebuah pohon besar. Kemarin dia baru saja ditinggalkan oleh adik kesayangannya Viola yang duduk di bangku kelas satu SMP yang meninggal karena leukimia. Tapi ia masih memiliki seorang kakak perempuan bernama Rita, yang sekarang sudah duduk di bangku kuliah. Sedangkan dia sendiri duduk di bangku kelas tiga SMP. Sudah lama dia dipemakaman. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena hari mulai petang dengan menuntun sepedanya.Baru lima langkah berjalan, tiba-tiba sebuah dahan pohon jatuh dan mengenai kepalanya. Rico pun terjatuh dan tidak sadarkan diri beberapa saat.
Tak lama kemudian ia terbangun. Melihat disekitarnya sudah agak gelap, ia langsung bangun dan menaiki sepedanya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah ia langsung memasukkan sepedanya ke garasi di samping rumahya kemudian ia masuk rumah, tapi dia tidak menemukan seorangpun didalam rumah. Lalu ia berlari ke kamarnya di lantai dua. Sebelum masuk ke kamarnya, dia melihat kamar Viola dan masuk kesana. Kamar tersebut masih bersih dan tertata rapi dengan barang-barang milik adiknya itu. Ia masih teringat kejadian dirumah sakit seminggu lalu ketika ia dan mamanya menjaga adiknya. Saat itu Rico ingin pergi ke rumah temannya Angga. Ia minta diantar oleh ibunya, maklum saja jarak antara rumah sakit dan rumah Angga jauh, selain itu sopir yang biasa mengantarnya masih pergi menjemput ayahnya di bandara.
“ Ma, antarkan aku ke rumah Angga, karena aku sudah janji dengannya.” Kata Rico. “ Siapa yang mau jaga adikmu nanti?”. Sahut mamanya. “ Iya kak, aku juga gak mau ditinggal sendiri.” sahut adiknya.
Akhirnya terjadi pertengkaran antar Rico dan adikknya. Sampai akhirnya ia terpaksa pergi seendiri karena memang mamanya tidak mau mengantar. Rico dan adikknya memang selalu bertengkar, tidak ada yang mau mengalah. Walaupun ada pasti adiknya yang mengalah.
Kejadian itu masih teringat di benaknya. Tiba-tiba terdengar suara bel dari depan. Ia segera lari ke bawah untuk membukakan pintu. Setelah dibuka betapa terkejutnya Rico ketika ia melihat di balik pintu adalah kedua orang tuanya yang membawa seorang anak perempuan di kursi roda. Setelah diperhatikan ternyata anak itu mirip Viola, adiknya.
“ Siapa dia ma???” Kata Rico yang merkejut karena melihat anak yang dibawa kedua orang tuanya itu. “ Inikan Viola adikmu.” Sahut mamanya. “ Masa sama adik sendiri lupa?” Kata papanya. Adiknya hanya senyum-senyum diatas kursi roda itu.” Sudah adikmu masih harus istirahat” kata mamanya, sambil mendorong kursi roda dan berlalu dengan papanya. Rico masih terpaku di depan pintu karena kaget dengan kejadian itu.
Malamnya, setelah sholat magrib berjamaah, ia makan bersama dengan keluarganya, termasuk adiknya yang tadi dibawa orang tuanya itu. Sembari mamanya menyiapkan makanan, Rico terus menerus menanyakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh adiknya yang telah meninggal.” Kemarin kamu peringkat berapa?, siapa nama temanmu yang paling sering kamu ajak bermain ke sini?, Apa nama novel yang paling sering kamu baca?” kata Rico, sambil mendekatkan kepalanya ke wajah anak itu. “ Sudahlah Co, jangan tannya hal seperti itu, adikmu tentu bisa menjawab” kata mamanya yang tiba-tiba berada di sebelahnya, Rico juga kaget kenapa mamanya bisa tahu apa maksud ia menanyakan itu. “Sudah ayo makan” kata papanya. Setelah makan Rico masuk ke kemarnya sambil terus berfikir mengenai anak itu.
Tiba-tiba pintu kamarnaya dibuka oleh mamanya. “ Kenapa kamu hari ini? Kok sepertinya sikapmu kepada adikmu aneh” kata mamanya.” Ma, sebenarnya siapa anak itu, kok mirip Viola?” kata Rico.
“ Itukan adikmu, tadi mama menjemputnya dari rumah sakit, karena kata dokter sudah boleh dibawa pulang.” Jawab mamanya. “ Ma, buakannya Viola sudah meninggal kemarin, kan kita sekeluarga datang ke acara pemakamannya.”kata Rico menjelaskan kepada mamanya. Kening mamanya mengkerut dan langsung berkata, “ Apa-apaan kamu ini, kemarin mama dan papa kan di rumah sakit.” Tiba-tiba adiknya datang dengan kursi roda. “ Ma, Viola ngantuk, temani aku tidur ya?”. katanya.
Mamanya langsung pergi sambil mendorong kursi roda adiknya. Rico pun langsung merebahkan diri ke tempat tidur sambil terur-menerus memikirkan anak itu.
Keesokan harinya setelah sarapan ia langsung mengajak mamanya untuk pergi ke pemakaman adiknya, untuk membuktikan perkataannya semalam, tapi dia meminta agar Viola yang berada dirumahnya tidak diajak. Mamanya menyetujuinya mereka berdua langsung pergi ke pemakaman dengan mobil. Di depan pemakaman ia membeli bunga. Lalu masuk ke pemakaman. Ia mencari pohon besar yang menjadi patokan tempat pemakaman adiknya. Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya dia menemukannya. Tapi alangkah terkejutnya Rico melihat nisan adiknya tidak bernama.
“Nisan ini tidak bernama Rico.”Kata mamanya. “Ta.. Ta.. Tapi, kemari nisan ini bernama dan terukir dinisan ini nama Viola, ma.”Jawabnya. “Sudahlah, mungkin kamu sedang banyak pikiran, ayo kita pulang.”kata mamanya. Rico dan mamanya pun pulang.
Sesampainya di rumah ternyata adiknya sudah menunggu di teras rumah. Mamanya pun menghampirinya,”Sedang apa kamu disini ?” tanya mamanya. “ Ma, aku minta dibelikan kucing anggora”, kata Viola. “Bukannya kamu tidak suka kucing, katamu kamu takut digigit kucing, kamu juga alergi dengan kucing kan?” Kata Rico. “Sudahlah, ayo mama antar, nanti kamu yang milih ya.” Kata mamanya. Merekapun pergi ke toko hewan.
Rico masuk ke rumah sambil mencari cara untuk membuktikan bahwa anak itu bukan Viola adiknya. Ia duduk di depan meja belajarnya.” Kenapa nisan Viola tidak bernama?, padahal kemarin masih bernama. Kenapa semua ini ter jadi? Apa yang sebenarnya terjadi?” Kata Rico dalam hati. Dia melihat kalender di samping meja belajarnya. Dia baru sadar bahwa besok adalah hari ulang tahun Viola. Kemudian terdengar suara adiknya dari ruang tamu, ia keluar dari kamarnya dan melihat adiknya membawa seekor kucing anggora dengan bulu lebat berwarna putih dan memperlihatkan kepada papanya yang juga keluar dari ruag kerjanya, mungkin karena ia juga mendengar suara adiknya itu.
Rico langsung berlari kebawah dan berkata,”Berarti besok kamu tidak usah minta hadiah dari mama”. “Memang besok ada apa?” Jawab Viola.”Jadi kamu lupa ya?? Besok kan hari ulang tahunmu”. “ Ya.. gak papa kok, aku kan udah dapet.” Jawab adiknya itu. Rico keheranan biasanya adiknya itu kalo ulang tahun minta dibelikan hadiah yang banyak, selain itu dia selalu minta dirayakan ulang tahunnya, dengan mengundang semua teman satu kelasnya. “Bagaimana kalo besok kita pergi jalan-jalan?” Kata papanya. “Hhmm... baiklah mama setuju, lagian besok kan Hari Minggu, kita keliling kota saja.” Sahut mamanya.
Keesokan harinya mamanya telah menyiapkan bekal makan siang dan segala keperluannya. Mereka pergi setelah sarapan. Mereka pergi keliling kota. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, mereka berhenti di sebuah taman di atas sebuah bukit di kota itu. Sesampainya disana mama dan papanya menyiapkan keperluan untuk makan siang. Tiba-tiba Nia teman sekolah Viola menghampiri mereka.
”Selamat siang tante, om, dan kak Rico.” Katanya. “Selamat siang” jawab mama dan papa bersamaan. Nia langsung mengajak Viola ngobrol, sedang Rico duduk di sebelah kursi roda adiknya. “Hai Viola, Apa kabar?, Kapan kamu pulang dari rumah sakit?” kata Nia. Dengan sedikit bingung Viola menjawab,”Hai juga, kabarku baik-baik saja, dua hari lalu aku pulang.” Jawab Viola.
“ Ow.., oya selamat ulang tahun ya, hari ini kan kamu ulang tahun, apa kamu tidak mengundang aku dan teman-teman kepestamu?” kata Nia. “Makasih ya, nggak tahun ini aku nggak minta untuk dirayakan.” Jawab Viola. “O.., oya Ega kemarin bilang ke aku, katanya ia kangen sama kamu.” Kata Nia. “Ha..Ha..Ha.., kok bisa dia kangen sama aku?” kata Viola. “Mana ku tau, oya dia juga pingin ketemuan sama kamu.” kata Nia.”Aku juga kangen sama dia, dia kan cowok terganteng di sekolah.” Jawab Viola. Nia dan Rico sama-sama kaget, lalu Nia menjawab,” Kamu ini, tumben-tumbennya buat lelucon, Ega itu kan cewek, kok bisa ganteng sih, aku dan Ega kan sering kamu ajak ke rumahmu ketika pulang sekolah.” Kata Nia. “He He, iya aku lupa.” Kata Viola. “ Viola.. Viola.., ya sudah aku pulang dulu, jangan lupa besok kamu harus pergi ke alun-alun karena ada perlombaan untuk agustusan, mungkin kamu juga bisa ketemu Ega.” Kata Nia. Lalu ia pergi.
Sebenarya Rico tahu kalau adikknya ini tidak tahu kalau Ega perempuan, dia bilang bahwa Ega itu laki-laki bukan karena buat lelucon, tapi karena dia tidak tahu. Rico semakin yakin bahwa ia bukan Viola adiknya, karena adiknya sudah meninggal.
Keesokan harinya Rico mengajak adiknya ke alun-alun untuk melihat perlombaan. Disana mereka bertemu Nia dan Ega. Rico berdiri di kiri kursi roda adiknya, sedangkan Nia dan Ega di sebelah kanan. Ketika mereka asyik mendukung para pemain tiba-tiba ada seberkas cahaya. Ternyata seorang reporter yang memfoto kemeriahan acara tersebut.
Rico mendatangi reporter tersebut. “Selamat siang, maaf mengganggu”. “Siang, tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?” kata reporter itu . “Saya mau tanya, apakah anda seorang reporter?” kata Rico. “Iya benar, saya seorang reporter surat kabar yang sedang meliput kemeriahan acara di sini”. Jawabnya. “Kapan berita ini diterbitkan?” tanya Rico. “Besok sudah bisa dibaca.” kata reporter itu. “O, makasih pak.” Kata Rico yang kemudian pergi menuju tempat adiknya tadi.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali ia menunggu di depan rumahnya untuk membeli surat kabar yang memuat berita tentang perayaan agustusan di alun-alun kemarin. Begitu penjual koran datang ia langsung membeli koran itu dan segera menuju kursi di terasnya. Kemudian ia segera mencari halaman berita yang ia cari. Lalu ia menemuka berita dengan judul ‘Kemeriahan Agustusan di Alun-Alun Kota’. Tapi tiba-tiba matanya terbelangak kaget dan badannya merinding ketika melihat foto di berita tersebut. Disana tidak ada foto adiknya, diantara Rico dan Nia kosong padahal seharusnya ada adiknya yang duduk di kursi roda. Matanya masih tercengang melihat foto itu, “Siapa dia?, Makhluk apa dia?, Dari mana dia?, Mengapa tidak bisa ditangkap oleh lensa kamera?” Rico bertanya kepada dirinya sendiri.
Rico masuk ke rumahnya dan melihat mamanya yang sedang menangis, dan disampingnya ada papanya yang berusaha menenangkan mamanya itu. “ Ada papa ma?” tanya Rico. “Mama masih sedih dengan kejadian kemarin”. ”Kejadian apa ma?” tanya Rico lagi. “Meninggalnya adikmu, Viola.” Jawab mamanya. Rico kaget. “ Bukannya mama membawa Viola dari rumah sakit tiga Hari lalu? Mama juga membelikannya seekor kucing permintaannya, mengajaknya ke taman disaat ulang tahunnya?” kata Rico.
Mama dan Papanya bingung dengan kata-kata Rico. Mereka merasa tidak pernah melakukan semua itu. Rico pun jadi tambah bingung Ia pun mencari kucing yang dibeli adiknya. Tapi tidak menemukannya. Akhirnya dia menaiki sepedanya menuju pemakaman adikknya. Di perjalanan ia bertemu Nia dan Ega. Lalu Rico menanyakan kejadian di taman dua hari lalu. Tapi Nia merasa tidak melakukannya. Ia malah berkata bahwa dua hari lalu Viola masih berada rumah sakit.
Lalu Rico menanyakan tentang kejadian di alun-alun kemarin. Tapi mereka berkata bahwa hanya bertemu dengan Rico disana dan tidak ada Viola. Mereka juga berkata bahwa kemarin lusa Viola meninggal, jadi bagaimana mungkin bisa bertemu dengannya kemarin di alun-alun.
Rico pun segera menuju pemakaman dan mencari pohon besar itu setelah menemukannya Rico kembali kaget melihat nisannya ada namanya adiknya, Viola. Padahal ketika ia mengajak mamanya nisan itu tidak bernama. “Kenapa seolah-olah hari berputar lagi ke hari sebelum meninggalnya Viola. Lalu Viola datang dengan sejuta pertanyaan.” kata Rico menanyakan kepada dirinya sendiri. Dan hanya ada satu pertanyaan di benak Rico saat itu, “ SIAPAKAH DIA???”.
-TAMAT-
SIAPAKAH DIA ???
Oleh : Eki Adetya Nugraha
Rico masih menangis di pemakaman adiknya dibawah sebuah pohon besar. Kemarin dia baru saja ditinggalkan oleh adik kesayangannya Viola yang duduk di bangku kelas satu SMP yang meninggal karena leukimia. Tapi ia masih memiliki seorang kakak perempuan bernama Rita, yang sekarang sudah duduk di bangku kuliah. Sedangkan dia sendiri duduk di bangku kelas tiga SMP. Sudah lama dia dipemakaman. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena hari mulai petang dengan menuntun sepedanya.Baru lima langkah berjalan, tiba-tiba sebuah dahan pohon jatuh dan mengenai kepalanya. Rico pun terjatuh dan tidak sadarkan diri beberapa saat.
Tak lama kemudian ia terbangun. Melihat disekitarnya sudah agak gelap, ia langsung bangun dan menaiki sepedanya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah ia langsung memasukkan sepedanya ke garasi di samping rumahya kemudian ia masuk rumah, tapi dia tidak menemukan seorangpun didalam rumah. Lalu ia berlari ke kamarnya di lantai dua. Sebelum masuk ke kamarnya, dia melihat kamar Viola dan masuk kesana. Kamar tersebut masih bersih dan tertata rapi dengan barang-barang milik adiknya itu. Ia masih teringat kejadian dirumah sakit seminggu lalu ketika ia dan mamanya menjaga adiknya. Saat itu Rico ingin pergi ke rumah temannya Angga. Ia minta diantar oleh ibunya, maklum saja jarak antara rumah sakit dan rumah Angga jauh, selain itu sopir yang biasa mengantarnya masih pergi menjemput ayahnya di bandara.
“ Ma, antarkan aku ke rumah Angga, karena aku sudah janji dengannya.” Kata Rico. “ Siapa yang mau jaga adikmu nanti?”. Sahut mamanya. “ Iya kak, aku juga gak mau ditinggal sendiri.” sahut adiknya.
Akhirnya terjadi pertengkaran antar Rico dan adikknya. Sampai akhirnya ia terpaksa pergi seendiri karena memang mamanya tidak mau mengantar. Rico dan adikknya memang selalu bertengkar, tidak ada yang mau mengalah. Walaupun ada pasti adiknya yang mengalah.
Kejadian itu masih teringat di benaknya. Tiba-tiba terdengar suara bel dari depan. Ia segera lari ke bawah untuk membukakan pintu. Setelah dibuka betapa terkejutnya Rico ketika ia melihat di balik pintu adalah kedua orang tuanya yang membawa seorang anak perempuan di kursi roda. Setelah diperhatikan ternyata anak itu mirip Viola, adiknya.
“ Siapa dia ma???” Kata Rico yang merkejut karena melihat anak yang dibawa kedua orang tuanya itu. “ Inikan Viola adikmu.” Sahut mamanya. “ Masa sama adik sendiri lupa?” Kata papanya. Adiknya hanya senyum-senyum diatas kursi roda itu.” Sudah adikmu masih harus istirahat” kata mamanya, sambil mendorong kursi roda dan berlalu dengan papanya. Rico masih terpaku di depan pintu karena kaget dengan kejadian itu.
Malamnya, setelah sholat magrib berjamaah, ia makan bersama dengan keluarganya, termasuk adiknya yang tadi dibawa orang tuanya itu. Sembari mamanya menyiapkan makanan, Rico terus menerus menanyakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh adiknya yang telah meninggal.” Kemarin kamu peringkat berapa?, siapa nama temanmu yang paling sering kamu ajak bermain ke sini?, Apa nama novel yang paling sering kamu baca?” kata Rico, sambil mendekatkan kepalanya ke wajah anak itu. “ Sudahlah Co, jangan tannya hal seperti itu, adikmu tentu bisa menjawab” kata mamanya yang tiba-tiba berada di sebelahnya, Rico juga kaget kenapa mamanya bisa tahu apa maksud ia menanyakan itu. “Sudah ayo makan” kata papanya. Setelah makan Rico masuk ke kemarnya sambil terus berfikir mengenai anak itu.
Tiba-tiba pintu kamarnaya dibuka oleh mamanya. “ Kenapa kamu hari ini? Kok sepertinya sikapmu kepada adikmu aneh” kata mamanya.” Ma, sebenarnya siapa anak itu, kok mirip Viola?” kata Rico.
“ Itukan adikmu, tadi mama menjemputnya dari rumah sakit, karena kata dokter sudah boleh dibawa pulang.” Jawab mamanya. “ Ma, buakannya Viola sudah meninggal kemarin, kan kita sekeluarga datang ke acara pemakamannya.”kata Rico menjelaskan kepada mamanya. Kening mamanya mengkerut dan langsung berkata, “ Apa-apaan kamu ini, kemarin mama dan papa kan di rumah sakit.” Tiba-tiba adiknya datang dengan kursi roda. “ Ma, Viola ngantuk, temani aku tidur ya?”. katanya.
Mamanya langsung pergi sambil mendorong kursi roda adiknya. Rico pun langsung merebahkan diri ke tempat tidur sambil terur-menerus memikirkan anak itu.
Keesokan harinya setelah sarapan ia langsung mengajak mamanya untuk pergi ke pemakaman adiknya, untuk membuktikan perkataannya semalam, tapi dia meminta agar Viola yang berada dirumahnya tidak diajak. Mamanya menyetujuinya mereka berdua langsung pergi ke pemakaman dengan mobil. Di depan pemakaman ia membeli bunga. Lalu masuk ke pemakaman. Ia mencari pohon besar yang menjadi patokan tempat pemakaman adiknya. Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya dia menemukannya. Tapi alangkah terkejutnya Rico melihat nisan adiknya tidak bernama.
“Nisan ini tidak bernama Rico.”Kata mamanya. “Ta.. Ta.. Tapi, kemari nisan ini bernama dan terukir dinisan ini nama Viola, ma.”Jawabnya. “Sudahlah, mungkin kamu sedang banyak pikiran, ayo kita pulang.”kata mamanya. Rico dan mamanya pun pulang.
Sesampainya di rumah ternyata adiknya sudah menunggu di teras rumah. Mamanya pun menghampirinya,”Sedang apa kamu disini ?” tanya mamanya. “ Ma, aku minta dibelikan kucing anggora”, kata Viola. “Bukannya kamu tidak suka kucing, katamu kamu takut digigit kucing, kamu juga alergi dengan kucing kan?” Kata Rico. “Sudahlah, ayo mama antar, nanti kamu yang milih ya.” Kata mamanya. Merekapun pergi ke toko hewan.
Rico masuk ke rumah sambil mencari cara untuk membuktikan bahwa anak itu bukan Viola adiknya. Ia duduk di depan meja belajarnya.” Kenapa nisan Viola tidak bernama?, padahal kemarin masih bernama. Kenapa semua ini ter jadi? Apa yang sebenarnya terjadi?” Kata Rico dalam hati. Dia melihat kalender di samping meja belajarnya. Dia baru sadar bahwa besok adalah hari ulang tahun Viola. Kemudian terdengar suara adiknya dari ruang tamu, ia keluar dari kamarnya dan melihat adiknya membawa seekor kucing anggora dengan bulu lebat berwarna putih dan memperlihatkan kepada papanya yang juga keluar dari ruag kerjanya, mungkin karena ia juga mendengar suara adiknya itu.
Rico langsung berlari kebawah dan berkata,”Berarti besok kamu tidak usah minta hadiah dari mama”. “Memang besok ada apa?” Jawab Viola.”Jadi kamu lupa ya?? Besok kan hari ulang tahunmu”. “ Ya.. gak papa kok, aku kan udah dapet.” Jawab adiknya itu. Rico keheranan biasanya adiknya itu kalo ulang tahun minta dibelikan hadiah yang banyak, selain itu dia selalu minta dirayakan ulang tahunnya, dengan mengundang semua teman satu kelasnya. “Bagaimana kalo besok kita pergi jalan-jalan?” Kata papanya. “Hhmm... baiklah mama setuju, lagian besok kan Hari Minggu, kita keliling kota saja.” Sahut mamanya.
Keesokan harinya mamanya telah menyiapkan bekal makan siang dan segala keperluannya. Mereka pergi setelah sarapan. Mereka pergi keliling kota. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, mereka berhenti di sebuah taman di atas sebuah bukit di kota itu. Sesampainya disana mama dan papanya menyiapkan keperluan untuk makan siang. Tiba-tiba Nia teman sekolah Viola menghampiri mereka.
”Selamat siang tante, om, dan kak Rico.” Katanya. “Selamat siang” jawab mama dan papa bersamaan. Nia langsung mengajak Viola ngobrol, sedang Rico duduk di sebelah kursi roda adiknya. “Hai Viola, Apa kabar?, Kapan kamu pulang dari rumah sakit?” kata Nia. Dengan sedikit bingung Viola menjawab,”Hai juga, kabarku baik-baik saja, dua hari lalu aku pulang.” Jawab Viola.
“ Ow.., oya selamat ulang tahun ya, hari ini kan kamu ulang tahun, apa kamu tidak mengundang aku dan teman-teman kepestamu?” kata Nia. “Makasih ya, nggak tahun ini aku nggak minta untuk dirayakan.” Jawab Viola. “O.., oya Ega kemarin bilang ke aku, katanya ia kangen sama kamu.” Kata Nia. “Ha..Ha..Ha.., kok bisa dia kangen sama aku?” kata Viola. “Mana ku tau, oya dia juga pingin ketemuan sama kamu.” kata Nia.”Aku juga kangen sama dia, dia kan cowok terganteng di sekolah.” Jawab Viola. Nia dan Rico sama-sama kaget, lalu Nia menjawab,” Kamu ini, tumben-tumbennya buat lelucon, Ega itu kan cewek, kok bisa ganteng sih, aku dan Ega kan sering kamu ajak ke rumahmu ketika pulang sekolah.” Kata Nia. “He He, iya aku lupa.” Kata Viola. “ Viola.. Viola.., ya sudah aku pulang dulu, jangan lupa besok kamu harus pergi ke alun-alun karena ada perlombaan untuk agustusan, mungkin kamu juga bisa ketemu Ega.” Kata Nia. Lalu ia pergi.
Sebenarya Rico tahu kalau adikknya ini tidak tahu kalau Ega perempuan, dia bilang bahwa Ega itu laki-laki bukan karena buat lelucon, tapi karena dia tidak tahu. Rico semakin yakin bahwa ia bukan Viola adiknya, karena adiknya sudah meninggal.
Keesokan harinya Rico mengajak adiknya ke alun-alun untuk melihat perlombaan. Disana mereka bertemu Nia dan Ega. Rico berdiri di kiri kursi roda adiknya, sedangkan Nia dan Ega di sebelah kanan. Ketika mereka asyik mendukung para pemain tiba-tiba ada seberkas cahaya. Ternyata seorang reporter yang memfoto kemeriahan acara tersebut.
Rico mendatangi reporter tersebut. “Selamat siang, maaf mengganggu”. “Siang, tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?” kata reporter itu . “Saya mau tanya, apakah anda seorang reporter?” kata Rico. “Iya benar, saya seorang reporter surat kabar yang sedang meliput kemeriahan acara di sini”. Jawabnya. “Kapan berita ini diterbitkan?” tanya Rico. “Besok sudah bisa dibaca.” kata reporter itu. “O, makasih pak.” Kata Rico yang kemudian pergi menuju tempat adiknya tadi.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali ia menunggu di depan rumahnya untuk membeli surat kabar yang memuat berita tentang perayaan agustusan di alun-alun kemarin. Begitu penjual koran datang ia langsung membeli koran itu dan segera menuju kursi di terasnya. Kemudian ia segera mencari halaman berita yang ia cari. Lalu ia menemuka berita dengan judul ‘Kemeriahan Agustusan di Alun-Alun Kota’. Tapi tiba-tiba matanya terbelangak kaget dan badannya merinding ketika melihat foto di berita tersebut. Disana tidak ada foto adiknya, diantara Rico dan Nia kosong padahal seharusnya ada adiknya yang duduk di kursi roda. Matanya masih tercengang melihat foto itu, “Siapa dia?, Makhluk apa dia?, Dari mana dia?, Mengapa tidak bisa ditangkap oleh lensa kamera?” Rico bertanya kepada dirinya sendiri.
Rico masuk ke rumahnya dan melihat mamanya yang sedang menangis, dan disampingnya ada papanya yang berusaha menenangkan mamanya itu. “ Ada papa ma?” tanya Rico. “Mama masih sedih dengan kejadian kemarin”. ”Kejadian apa ma?” tanya Rico lagi. “Meninggalnya adikmu, Viola.” Jawab mamanya. Rico kaget. “ Bukannya mama membawa Viola dari rumah sakit tiga Hari lalu? Mama juga membelikannya seekor kucing permintaannya, mengajaknya ke taman disaat ulang tahunnya?” kata Rico.
Mama dan Papanya bingung dengan kata-kata Rico. Mereka merasa tidak pernah melakukan semua itu. Rico pun jadi tambah bingung Ia pun mencari kucing yang dibeli adiknya. Tapi tidak menemukannya. Akhirnya dia menaiki sepedanya menuju pemakaman adikknya. Di perjalanan ia bertemu Nia dan Ega. Lalu Rico menanyakan kejadian di taman dua hari lalu. Tapi Nia merasa tidak melakukannya. Ia malah berkata bahwa dua hari lalu Viola masih berada rumah sakit.
Lalu Rico menanyakan tentang kejadian di alun-alun kemarin. Tapi mereka berkata bahwa hanya bertemu dengan Rico disana dan tidak ada Viola. Mereka juga berkata bahwa kemarin lusa Viola meninggal, jadi bagaimana mungkin bisa bertemu dengannya kemarin di alun-alun.
Rico pun segera menuju pemakaman dan mencari pohon besar itu setelah menemukannya Rico kembali kaget melihat nisannya ada namanya adiknya, Viola. Padahal ketika ia mengajak mamanya nisan itu tidak bernama. “Kenapa seolah-olah hari berputar lagi ke hari sebelum meninggalnya Viola. Lalu Viola datang dengan sejuta pertanyaan.” kata Rico menanyakan kepada dirinya sendiri. Dan hanya ada satu pertanyaan di benak Rico saat itu, “ SIAPAKAH DIA???”.
-TAMAT-
Subscribe to:
Posts (Atom)

